1. Proses Turunnya al-Quran Menurut Orientalis

Pandangan Orientalis Terhadap Wahyu

Studi orientalis tentang wahyu dalam Islam sudah muncul sejak abad pertengahan di Eropa. Salah satunya dilakukan oleh Hildbert. Ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menela’ah konsep wahyu dalam Islam dan menyesuaikannya dengan tujuannya, yaitu menjauhkan wahyu dari hakekatnya menurut Islam. Studi semacam ini tentu tidak obyektif karena dilandasi kebencian dan kecemburuan terhadap al-Quran, serta berangkat dari keterbatasan ilmu tentang wahyu nabi.

Menurut para orientalis, wahyu merupakan hasil dari khayalan orang yang menderita penyakit epilepsi. Hal ini berdasarkan riwayat hadis[1] yang menjelaskan bahwa ketika nabi Muhammad menerima wahyu, terdapat tanda-tanda fisik seperti wajah pucat, badan gemetar, dan keringat yang mengucur dari tubuh. Tanda-tanda fisik seperti ini sama dengan tanda-tanda yang bisa dijumpai pada seseorang yang menderita epilepsi. Mereka berpendapat bahwa ketika penyakit epilepsi itu menyerang Muhammad, yang ditandai dengan gejala-gejala fisik tadi, maka kesadaran sudah hilang darinya karena ia masuk kepada alam ghaib/metafisik. Kemudian ketika Muhammad sadar/sembuh dari serangan penyakit itu, ia menyangka bahwa itu adalah wahyu dari Tuhannya. Kemudian ia menceritakan kepada para sahabatnya.

Menurut Muir, dalam bukunya The Life of Muhammad, wahyu dalam Islam tidak lain hanyalah tipuan/akal-akalan Muhammad. Pendapat ini didasarkan pada riwayat perjalanan Nabi ke negeri Syam dengan pamannya, dan perjalanan beliau ke Syam ketika mendapat pekerjaan dari Khadijah untuk berdagang. Dalam perjalanan tersebut, Nabi melihat Rahib dan Pendeta sedang beribadah dengan khusuk. Pengalaman inilah -yang pertama kali ia lihat- memberikan pengaruh sangat kuat kepada Nabi, sehingga ia berusaha dengan keras untuk menemukan agama yang benar. Dalam usaha menemukan agama yang benar itu, Nabi mengaku telah menerima wahyu dari Allah. Sebagai buktinya ia telah berhasil berdagang dengan mendapatkan untung yang banyak. Kemudian Allah memerintahkannya untuk menikahi Khadijah.[2] Muir melihat bahwa wahyu dalam Islam tak lain dan tak bukan hanyalah tipuan Muhammad saja, dan tidak datang dari Tuhan. Dari sini para orientalis berpendapat bahwa wahyu dalam Islam tak lain dan tak bukan hanyalah buatan Muhammad. Menurut mereka Muhammad tidak menerima wahyu dari Tuhannya (al-wahyu al-ilahiy), tapi ia membuat sendiri (al-wahyu annafsiy) kemudian menyampaikannya kepada pengikutnya bahwa itu adalah wahyu.

Montegomry Watt mengatakan bahwa Muhammad sebenarnya orang yang benar dalam berkata tetapi memiliki keyakinan yang salah terhadap wahyu.[3] Artinya, ia tidak berniat untuk membohongi pengikutnya ketika ia mengaku telah menerima wahyu dari Tuhan. Namun dalam waktu yang sama, keyakinannya sendiri bahwa Tuhan telah memberikan kepadanya wahyu adalah suatu kesalahan. Hal ini bisa dilihat pada saat Muhammad [merasa] menerima wahyu yang ia sendiri tidak tahu hakikatnya, kemudian ia menganggapnya sebagai wahyu seperti yang diturunkan kepada para Nabi terdahulu. Akhirnya, Watt memberikan solusi untuk mensikapi wahyu dengan jalan mempercayai bahwa Muhammad menerima wahyu dari Tuhannya, dan di saat bersamaan, ia meyakini bahwa keyakinan Muhammad itu salah.[4]

Urutan Surat Berdasarkan Waktu Turunnya

Para orientalis meyakini bahwa al-Quran tidak lebih dari sekedar buku sejarah, oleh karena itu mereka berusaha dengan keras untuk menyusun ulang surat-surat dalam al-Quran berdasarkan urutan waktu. Adapun yang menjadi dasar mereka dalam menentukan urutan surat-surat tersebut adalah tata bahasa dan pokok pikiran yang terkandung dalam surat, keterangan-keterangan dari sirah nabawiyah, dan sejarah Islam sendiri. Diantara orientalis yang serius melakukan hal ini adalah Theodore Noldeke[5] dan Edward Sell.[6] Noldeke membagi surat-surat dalam al-Quran menjadi empat tahap; Pertama, mulai tahun pertama kenabian sampai tahun kelima. Tahap kedua, dari tahun kelima sampai tahun keenam dari kenabian. Tahap ketiga, dari tahun ketujuh kenabian hingga hijrahnya Nabi. Dan tahap keempat, selama Nabi tinggal di Madinah.[7]

Cerita-Cerita dalam al-Quran Menurut Pandangan Orientalis

Kajian orientalis terhadap al-Qur’an tidak sebatas mempertanyakan otentisitinya. Isu klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, Kristian, Zoroaster, dan sebagainya terhadap Islam maupun isi kandungan al-Qur’an (‘theories of borrowing and influence’). Biasanya mereka mengatakan bahwa cerita-cerita dalam al-Qur’an banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan versi Bible yang mereka anggap lebih akurat. Sikap anti-Islam ini tersimpul dalam pernyataan negatif seorang orientalis Inggris yang banyak mengkaji karya-karya sufi, Reynold A. Nicholson: “Muhammad picked up all his knowledge of this kind [i.e. al-Qur’an] by hearsay and makes a brave show with such borrowed trappings–largely consisting of legends from the Haggada and Apocrypha.” Walau bagaimanapun, segala upaya mereka ibarat buih, muncul dan hilang begitu saja, tanpa pernah berhasil merubah keyakinan dan penghormatan mayoritas Umat Islam terhadap kitab suci al-Qur’an.[8]

Lebih dari itu, adanya cerita-cerita dalam al-Quran yang kenyataannya mirip dengan cerita-cerita dalam taurat dan injil, dijadikan senjata bagi para orientalis untuk mengatakan bahwa al-Quran sebenarnya bukan wahyu dari Tuhan, tapi cuma buatan Muhammad. Seperti R. Blachere[9] dalam bukunya Le Probleme du Mohammed, mengatakan bahwa pengaruh Yahudi dan Kristen tersebut bisa dilihat dari miripnya cerita dalam al-Quran dengan cerita dalam kitab Yahudi dan Kristen.

2. Kodifikasi al-Quran dalam Pandangan Orientalis

Menurut para orientalis, sejarah pengkodifikasian al-Quran sangat problematis. Hal ini disebabkan karena Muhammad sendiri tidak berniat untuk melakukannya. Menurut Hirshfeld[10], tidak dihimpunnya al-Quran dalam sebuah mushaf bukan karena Muhammad terlebih dahulu wafat, tapi supaya Muhammad bebas merubah ayat-ayat yang tidak sesuai dengan kondisi kekinian saat itu. Oleh karena itu ia lebih suka jika para pengikutnya menghafal materi wahyu itu.[11] Pendapat senada juga dikemukakan oleh Arthur Jeffery. Menurutnya “Nevertheless there was certainly no Quran existing as a collected, arranged, edited book, when the Prophet died”. Para sahabatpun sebenarnya tidak punya keinginan untuk menghimpun wahyu, kecuali setelah dihadapkan pada kondisi tertentu saat itu, dimana banyak penghafal al-Quran meninggal dalam peperangan.[12] Lebih dari itu, Daniel A Madigan, seorang orientalis kontemporer, mensikapi ide orientalis sebelumnya tentang pengkodifikasian al-Quran dengan menyatakan bahwa makna kata kitab dalam al-Quran bukanlah mushaf atau buku. Menurutnya, terjemahan yang lebih tepat adalah tulisan. Yaitu tulisan sebagai sebuah proses komunikasi antara Tuhan dan Nabi-Nya, dan bukan sebagai sebuah produk.[13]

Pada perkembangan berikutnya, pengkodifikasian al-Quran pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar pun dipermasalahakan oleh para orientalis. Mereka pada umumnya mempermasalahkan bahkan tidak menerima riwayat hadits yang menyatakan bahwa al-Quran dihimpun pada masa Khalifah Abu Bakr. Menurutnya, hadits yang mengkaitkan al-Quran dihimpun dengan alas an banyaknya Qurra’ yang meninggal dalam perang Yamamah sebenarnya palsu. Karena sebenarnya jumlah Qurra’ yang meninggal dalam perang tersebut sangat sedikit. Bahkan menurut mereka, mengaitkan kodifikasi al-Quran dengan banyaknya Qurra’ yang meninggal adalah sesuatu yang tidak logis. Hal ini disebabkan karena pertama, semasa Muhammad masih hidup, al-Quran sudah ditulis secara bertahap. Kedua, adanya perbedaan riwayat, apakah al-Quran yang dihimpun pada zaman Abu Bakr identik dengan yang dihimpun pada zaman ‘Utsman? Schwally (m. 1919) menyimpulkan riwayat palsu yang menyatakan bahwa al-Quran dihimpun pada zaman Abu Bakr. Menurutnya, jikapun Zayd telah menghimpun al-Quran pada zaman Abu Bakr, dan teks tersebut merupakan model yang akan disalin, terdapat keanehan karena Utsman juga menunjuk sebuah tim lagi untuk menghimpun dan mengedit al-Quran dibawah pimpinan Zayd. Ketiga, jika al-Quranyang dihimpun oleh Abu Bakr dan diwariskan kepada Umar merupakan edisi resmi, maka terdapat kontradiksi. Karena para sahabat masih banyak memiliki mushaf versinya masing-masing yang beredar di berbagai daerah. Selain itu Umar mewariskan mushaf yang dihimpun pada zaman Abu Bakr itu kepada hafsah bukan kepada Utsman. Hal inilah yang menunjukkan bahwa mushaf tersebut (versi Abu Bakr) bukanlah salinan resmi. Schwally menyimpulkan bahwa riwayat yang menyatakan al-Quran telah dihimpun pada zaman Abu Bakr adalah rekayasa belakangan supaya al-Quran yang dihimpun pada masa Utsman –yang ditolah oleh sebagian komunitas Muslim- menjadi lebih otoritatif.[14]

4. Kritik atas Studi Orientalis Terhadap Sejarah Teks al-Quran

Salah satu kajian utama orientalis terhadap al-Quran adalah mengenai sejarahnya. Dan salah satu tokoh orientalis yang melakukannya adalah Arthur Jeffery. Menurutnya tidak ada yang istimewa dalam sejarah al-Quran karena sama saja dengan sejarah kitab-kitab suci yang lain. Ia mengatakan, “it was the community which decided this matter of what was and what was not scripture”. Komunitaslah yang sangat berperan terhadap kesucian sebuah kitab suci. Dan fenomena semacam ini terjadi dalam setiap agama termasuk Islam.[15] Pandangan seperti ini jelas keliru karena al-Quran ternyata tidak hanya dianggap istimewa oleh umat islam saja tapi juga oleh komunitas ilmuwan yang secara jujur mengakui ketepatan konsep-konsep ilmiah dalam al-Quran yang baru terbukti 14 abad kemudian.

Kesalahan Pemahaman Orientalis terhadap Proses Turunnya Wahyu

Nabi Muhammad bukanlah satu-satunya nabi yang menerima wahyu, tapi semua nabi telah menerimanya. Dan wahyu itu berasal dari satu sumber (Allah). Kebanyakan orientalis tidak mau berusaha untuk meragukan atau mengkritik wahyu yang turun kpd Nabi Isa (sebagaimana mereka melakukan terhadap Nabi Muhammad). Tetapi mereka menjaganya dan berpendapat bahwa wahyu untuk Isa tidak mungkin diperdebatkan lagi dengan metode ilmiah. Dalam waktu bersamaan mereka mengkritik wahyu Muhammad secara rasio dal ilmiah. Seharusnya teori kritik atas wahyu tersebut harus dilakukan thd semua wahyu yang bersumber dari tuhan. Benar-benar sebuah sikap mendua yang tidak layak dilakukan oleh orang yang mengaku ilmiah.

Kalau diteliti dengan seksama, kesalahan pemahaman orientalis terhadap al-Quran diawali dengan kekeliruannya dalam memahami proses turunnya wahyu. Menurut mereka, ketika Nabi Muhammad menerima wahyu, terdapat tanda-tanda fisik yang sama dengan orang yang menderita penyakit epilepsi dimana kesadaran telah hilang dan masuk ke alam tidak sadar (ghaib). Diantara tanda-tanda fisik itu, sebagaimana dijelaskan dalam hadits, adalah keluarnya keringat dari sekujur tubuhnya, muka yang pucat, dan suara gaung yang mengiringi proses penerimaan wahyu. Kemudian setelah Nabi sadar, ia menceritakan kepada para sahabatnya bahwa ia baru saja menerima wahyu. Pemahaman seperti ini jelas salah karena orang yang terkena penyakit seperti itu pasti tidak ingat sama sekali apa yang dialaminya. Ingatan dan fikirannya tidak berfungsi sama sekali ketika mengalami hal itu. Kondisi seperti ini sama sekali tidak terjadi kepada Rasulullah. Karena ketika menerima wahyu, Rasulullah dengan penuh kesadaran mengetahuinya. Panca indranya berfungsi dengan sempurna. Sehingga mampu menceritakan secara terperinci apa saja yang baru dialami. Dan wahyu itu sendiri tidak selalu berkaitan dengan hal yang ghaib tapi juga sering turun dalam keadaan nabi yang sepenuhnya sadar sebagaimana peristiwa-peristiwa normal. Sementara itu, mereka juga berpendapat bahwa wahyu itu datang dari dalam diri nabi sendiri. Mereke menyebutnya sebagai al-wahyu annafsiy (intuisi). Pendapat ini jelas tidak ilmiah karena dalam waktu bersamaan mereka juga menganggap wahyu sebagai sesuatu yang datang dari alam ghaib yang menyebabkan Nabi tidak sadar ketika menerimanya seperti dijelaskan di atas. [16]

Tafsiran orientalis terhadap wahyu seperti di atas tidak sesuai dengan hakekat wahyu itu sendiri. Mereka mengistilahkan wahyu sebagai al-wahyu annafsiy (intuisi) yang berasal dari dalam manusia. Hal ini jelas berbeda dengan wahyu tuhan (dalam konsep Islam). Contoh kasus: jika wahyu itu berupa perbuatan (fi’il) pembeda, maka wahyu itu berasal dari dzat yang mengerjakan yang menginginkan sesuatu. Dialah Allah. Dan bukan intuisi, karena intuisi kembali kepada tabiat yang terjadi dalam sebuah realitas. Sehingga memerlukan pemikiran untuk menyimpulkan yang akhirnya menimbulkan keraguan atau keyakinan. Sementara wahyu tidak tunduk kepada realitas dan rasio. Ia bisa diyakini secara mutlak tanpa ada ruang keraguan di dalamnya. Sumber ilham/intuisi adalah batin manusia yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi sementara wahyu bersumber dari luar yang tidak dipengaruhi oleh dirinya sendiri.[17]

Kegagalan Orientalis dalam Penyusunan Ulang al-Quran

Usaha Theodore Noldeke untuk mengatur ulang susunan surat-surat dalam al-Quran berdasarkan waktu turunnya ternyata mengalami kegagalan. Bahkan sebelum ia meninggal, dengan jujur ia mengungkapkan penyesalannya karena telah menghabiskan sebagian besar umurnya untuk melakukan itu tanpa menghasilkan apa-apa. Ia merasa, usahanya itu tidak memberikan kontribusi ilmiah untuk kepentingan manusia.[18] Begitu juga dengan usaha Edward Sell dalam bukunya The Historical Development of the Quran yang tidak berhasil menentukan batas waktu turunnya seluruh ayat al-Quran karena ia melewatkan sekitar empat puluh lima surat dalam bukunya.

Hal ini cukup menjadi bukti bahwa usaha orientalis untuk mengatur ulang susunan surat-surat dalam al-Quran berdasarkan waktu turunnya mengalami kegagalan. Anggapan mereka bahwa waktu turunnya surat al-Quran bersamaan dengan waktu terjadinya sebuah peristiwa, tanpa memperhatikan waktu turunnya ayat lain dalam surat tersebut, adalah tidak benar. Sebagai contoh jika sebuah surat diturunkan pada tahun kedua Hijrah atas dasar salah satu ayat dalam surat itu yang menunjukkan waktu turunnya, terdapat banyak sekali ayat lain dalam surat yang sama yang diturunkan beberapa waktu setelah itu atau bahkan dalam jangka waktu yang agak lama. Lebih dari itu, jika al-Quran disusun berdasarkan waktu turunnya, maka hilanglah kesatuan ayat-ayat yang terdapat dalam sebuah surat, dan keterkaitan pokok fikiran antara ayat yang satu dengan yang lain menjadi tidak tertib lagi.[19]

Cerita-cerita dalam al-Qur’an Bukan Karangan Muhammad

Al-Quran, menurut pandangan orientalis, merupakan hasil dari karangan Muhammad. Bukti dari tuduhan ini adalah adanya beberapa cerita dalam al-Quran yang sama dengan cerita yang terdapat dalam kitab injil dan taurat. Mereka menganggap Muhammad mencontek cerita-cerita itu. Tuduhan seperti ini tentu sangat tidak tepat.

Adanya kemiripan cerita (atau bahkan ajaran) dalam sebuah kitab suci tidak serta merta berarti yang datang terakhir meniru kitab suci sebelumnya. Hal ini lebih berarti karena kitab suci agama-agama samawi itu sumbernya satu yaitu Allah swt, sehingga terdapat beberapa kemiripan. Namun demikian, terbukti bahwa cerita-cerita dalam al-Quran ternyata tidak semuanya sama persis dengan cerita-cerita dalam kitab suci lain. Justru cerita-cerita dalam al-Quran melengkapi cerita sebelumnya atau bahkan meluruskannya. Begitu juga dengan ajarannya.[20] Dari sini terlihat jelas bahwa cerita-cerita dalam al-Quran bukan karangan Muhammad.

Kelemahan Pendapat Orientalis tentang Pengkodifikasian al-Quran

Pendapat para orientalis yang mempermasalahkan sejarah pengkodifikasian al-Quran sebenarnya sangat lemah. Hal ini disebabkan oleh; pertama, hadits-hadits yang menyatakan apakah Abu Bakr atau Umar yang pertama kali melakukan pengkodifikasian al-Quran tidaklah bisa dijadikan alas an untuk menolak adanya kodifikasi pada zaman Abu Bakr. Hadits-hadits tersebut sama sekali tidak menafikan kodifikasi pada zaman Abu Bakr.

Kedua, pendapat Schwally yang menyatakan bahwa hanya dua orang Qurra’ yang meninggal pada perang Yamamah sangat tidak masuk akal. Karena diperkirakan terdapat 600 sampai 700 muslim yang meninggal pada perang tersebut. Menurut Tabari, 300 diantara mereka adalah Muhajirun dan Ansar. Sementara menurut Ibn Katsir, 450 muslim yang terbunuh. 50 diantaranya adalah Muhajirun dan Ansar. Menurut Bukhari, Umar mengatakan bahwa kerusakan sangat besar diantara para Qurra’ pada hari peperangan Yamamah.

Ketiga, Abu Bakr menyerahkan mushaf tersebut kepada Umar (pengganti Khalifah). Ini menunjukkan bahwa mushaf tersebut bukanlah mushaf pribadi tetapi mushaf yang resmi. Kemudian Umar menyerahkannya kepada Hafsah karena kekhalifahan pada waktu itu belum terbentuk karena Umar terbunuh terlebih dahulu. Umar menyerahkannya kepada Hafsah karena ia merupakan istri Rasulullah. Fakta ini justru lebih tepat jika ditafsirkan bahwa mushaf tersebut bukanlah kepunyaan keluarga Umar.

Keempat, mushaf yang dihimpun oleh Abu Bakr memang belum mengikat. Ini disebabkan karena motivasi penghimpunan waktu itu adalah banyaknya Qurra’ yang meninggal, bukan tajamnya perbedaan qira’ah sebagaimana kelak terjadi pada masa Utsman. Dan ketika Utsman menyuruh menghimpun al-Quran dengan menggunakan mushaf yang ada di tangan Hafsah sebagai rujukan, ini menunjukkan bahwa Abu Bakr memang mengkompilasi al-Quran. Adapun bahwa mushaf yang di tangan Hafsah tidak sepenuhnya mewakili al-Quran bukanlah isu penting bagi kaum muslimin. Karena kaum muslimin meyakini kebenaran yang ada pada mushaf Utsmani, bukan mushaf Abu Bakr.[21]


[1] انظر النسائى، احمد بن شعيب (ت 203 هـ / 915 م): فضائل القرآن، تحقيق فاروق حمادة، دار إحياء العلوم، ط 2، (بيروت 1992)، جـ 1، ص 59

[2] Al-Ahzab: 37

[3] The Encyclopedia of Religion, (New York, 1987), vol – 10, p – 138.

[4]الدكتور مشتاق بشير الغزالى، القرآن الكريم فى دراسات المستشرقين، (بيروت، دار النفائس للطباعة والنشر والتوزيع، الطبعة الأولى، 1429/2008)، ص. 59

[5] Orientalis asal Jerman yang hidup antara tahun 1836 – 1930

[6] Orientalis asal Inggris, hidup antara tahun 1839 – 1932

[7] Lihat urutan surat dalam al-Quran di Noldeke, Geschichte des Qorans, V. 1 dalam Op. Cit., Dr. Musytaq Basyir al-Ghazali, hlm. 81

[8] Dr. Syamsuddin Arif, Sekilas tentang Kajian Orientalis Terhadap al-Quran, dalam www.inpasonline.com

[9] Seorang orientalis asal Prancis.

[10] Orientalis Yahudi. Meninggal tahun 1934.

[11] Hartwig Hirschfeld, New Researches into the Composition and Exegrsis of the Qoran, (London: Royal Asiatic Society, 1902), p. 5.

[12] Arthur Jeffery, The Qur’an as Scripture, (MW 40, 1950), p. 91-92

[13] Adnin Armas, MA., Metodologi Bibel dalam Studi al-Quran, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), hlm. 86

[14] Ibid, hlm. 87-88

[15] Op. Cit., Arthur Jeffery, p. 43

[16] الدكتور مشتاق بشير الغزالى، القرآن الكريم فى دراسات المستشرقين، (بيروت، دار النفائس للطباعة والنشر والتوزيع، الطبعة الأولى، 1429/2008)، ص. 55

[17] نفس المرجع، ص. 59

[18] انظر عمر لطف العالم، المستشرقون والقرآن، ص. 7

[19] الدكتور مشتاق بشير الغزالى، المرجع السابق، ص. 92

[20] Perhatikan dengan seksama kisah nabi Yusuf dalam al-Quran kemudian bandingkan dengan yang ada di Taurat. Kemudian perhatikan hasil perbandingan antara kisah-kisah dalam al-Quran dengan Injil dan Taurat. Lihat Op. Cit, Musytaq Basyir al-Ghazali, hlm. 106

[21] Op. Cit., Adnin Armas, MA., hlm. 93-94.

Tagged with:
 

One Response to Kritik atas Studi Orientalis terhadap Sejarah Teks al-Quran

  1. [...] Kritik atas Studi Orientalis terhadap Sejarah Teks al-Quran [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>