Pendahuluan

Islam sebagai agama, pada hakikatnya terlihat pada aspek nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Salah satu bentuk elaborasi dari nilai-nilai kemanusiaan itu adalah pengakuan yang tulus terhadap kesamaan dan kesatuan manusia. Semua manusia adalah sama dan berasal dari sumber yang satu, yaitu Tuhan. Yang membedakan hanyalah prestasi dan kualitas takwa. Dan bicara soal takwa, hanya Tuhan semata yang berhak melakukan penilaian.

Tujuan hakiki dari semua agama adalah membina manusia agar menjadi baik dalam semua aspek: fisik, mental, moral, spiritual, dan aspek sosialnya. Intisari dari semua ajaran agama berkisar pada penjelasan tentang masalah baik dan buruk. Yakni menjelaskan mana perbuatan yang masuk dalam kategori perbuatan baik yang membawa kepada kebahagiaan, dan mana perbuatan buruk yang membawa kepada bencana dan kesengsaraan. Agama memberikan seperangkat tuntunan kepada manusia agar mengerjakan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk demi kebahagiaan dan ketenteraman manusia itu sendiri. Tuhan, Sang Pencipta, sama sekali tidak merasa untung jika manusia mengikuti aturan yang diwahyukan, sebaliknya juga tidak merasa rugi jika manusia mengabaikan tuntunan-Nya.

Salah satu tuntunan agama yang mendasar adalah keharusan menghormati sesama manusia tanpa melihat jenis kelamin, ras, suku bangsa, dan bahkan agama.[1] Karena itu, setiap agama mempunyai dua aspek ajaran: ajaran tentang ketuhanan dan kemanusiaan. Islam, misalnya, memiliki ajaran yang menekankan pada dua aspek sekaligus: aspek vertikal dan aspek horizontal. Yang pertama berisi seperangkat kewajiban manusia kepada Tuhan, sementara yang terakhir berisi seperangkat tuntunan yang mengatur hubungan antar-sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

Tauhid adalah inti ajaran Islam yang mengajarkan bagaimana berketuhanan, dan juga menuntun manusia bagaimana berkemanusiaan dengan benar. Dalam kehidupan sehari-hari, tauhid menjadi pegangan pokok yang membimbing dan mengarahkan manusia untuk bertindak benar, baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun dengan alam semesta. Bertauhid yang benar akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan hakiki di akhirat.

Pengetahuan awal mengenai tauhid adalah mengakui keesaan Allah, yang menciptakan alam semesta, mengenal asmâ (nama) dan sifat-Nya, serta mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud-Nya. Tapi, pengertian tauhid lebih dari sekadar itu. Pasalnya, kalau tauhid hanya berupa pengakuan akan keesaan dan kekuasaan Tuhan, maka makhluk serendah iblis pun bisa melakukan hal serupa. Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah. Namun, pengakuan itu tidak diiringi dengan ketaatan kepada perintah-Nya, yakni agar bersujud kepada Adam. Sebaliknya, dengan mengakui kemahabesaran Allah, dia malah memohon agar diizinkan untuk menjerumuskan anak cucu Adam[2].

Begitu juga masyarakat Arab jahiliyyah, tempat Rasulullah Muhammad Saw. diutus, juga meyakini bahwa pencipta, pengatur, pemelihara, dan penguasa alam ini adalah Allah[3]. Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belum menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat muslim dan mu’min, yang berserah diri dan beriman kepada Allah Swt. Karena dalam kenyataan, pengakuan itu tidak menjadikan mereka sebagai “muwahhid” (orang yang bertauhid) yang sebenarnya, baik secara vertikal, yakni dengan Sang Khalik, maupun secara horizontal, yakni dengan sesama makhluk.

Jika demikian, patut kita bertanya, apakah hakikat tauhid itu? Asumsi dasarnya, dengan melihat hakikat Islam pada aspek nilai-nilai kemanusiaannya (sosial), bertauhid tidak bisa dilepaskan dari kehidupan horizontal sehari-hari umat manusia, terutama dalam menata kehidupan sosial. Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimanakah bertauhid dalam konteks ini? Pertanyaan ini mengarahkan kita untuk mendalami makna tauhid, khususnya berkenaan dengan tata kehidupan social sehari-hari. Dengan demikian, tulisan ini mencoba untuk menguraikan makna Tauhid sebagai prinsip tata social dalam kehidupan sehari-hari.

Urgensi Tauhid dalam Islam

Tauhid secara bahasa adalah mengetahui dengan sebenar-benamya bahwa sesuatu itu satu. Secara terminologis, tauhid adalah penghambaan diri hanya kepada Allah Swt. dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh rasa tawadhu, cinta, harap, dan takut hanya kepada-Nya.[4]

Banyak sekali ayat Al-Qur’ân yang berbicara tentang tauhid. Di antara sekian banyak ayat tentang tauhid, Surah Al-Ikhlas bisa disebut sebagai inti ajaran tauhid. Surah ini mengandung beberapa ajaran penting tentang tauhid, yakni Allah adalah Esa, Allah adalah tempat bergantung, Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada satu pun makhluk di alam semesta ini yang menyamai Allah.

Ajaran-ajaran pokok ini kemudian direalisasikan oleh Rasulullah Muhammad Saw. dalam kehidupan individual maupun sosial. Dengan ajaran ini, Rasulullah melakukan perubahan di segala bidang, dari tingkat ideologis hingga ke tingkat praktis. Keyakinan akan keesaan Allah membuat Rasulullah dengan tegas melarang praktik mempertuhankan apa pun selain Allah, seperti berhala, kebesaran suku, pemimpin, penguasa; termasuk hawa nafsu dan ego yang ada dalam diri. Keyakinan bahwa hanya Allah tempat bergantung menjadikan Rasulullah memiliki kekuatan moral yang luar biasa dalam melapangkan jalan menuju revolusi sosial, yang dihadang dengan sangat keras oleh para pembesar Quraisy dan suku-suku Arab lainnya. Kebesaran musuh ini tidak membuat Rasulullah gentar, karena dia memiliki tempat bergantung dan bersandar yang jauh lebih kuasa dan perkasa, yakni Allah Yang Maha Agung. Tidak ada ketakutan terbadap kekuatan apa pun selain Allah, dan tidak ada pengharapan apa pun yang patut digantungkan selain kepada Allah. Keyakinan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan menafikan semua pengistimewaan sebagian manusia atas manusia lainnya. Tidak ada manusia yang dianggap sebagai anak Allah, seperti anggapan kaum Yahudi terhadap Nabi Uzair dan kaum Nasrani terhadap Nabi Isa. Semua manusia adalah hamba Allah, tak terkecuali Muhammad Saw. Keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang setara dan sepadan dengan Allah menjadikan semua selain Allah tidak bisa dipertuhankan[5].

Pada tataran sosial, kekuatan tauhid pada diri Rasulullah Saw. Membuatnya berani membela mereka yang direndahkan, teraniaya, dan terlemahkan secara struktural dan sistemik (mustadh’afîn), budak, dan anak-anak yang diperlakukan oleh para penguasa dan pembesar masyarakat yang menutupi kezalimannya di balik nama Tuhan.

Dengan demikian, tampak bahwa tauhid tidak sekadar doktrin keagamaan yang statis. Ia adalah energi aktif yang membuat manusia mampu menempatkan Tuhan sebagai Tuhan dan manusia sebagai manusia. Penjiwaan terhadap makna tauhid tidak saja membawa kemaslahatan dan keselamatan individual, melainkan juga melahirkan tatanan masyarakat yang bermoral, santun, manusiawi, bebas dari diskriminasi, ketidakadilan, kezaliman, rasa takut, penindasan individu atau kelompok yang lebih kuat, dan sebagainya[6]. Itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw.

Tauhid sebagai sentral dan dasar keyakinan dalam Islam ini menjadi sumber totalitas sikap dan pandangan hidup umat dalam keseluruhan dimensi kehidupan. Pandangan Tauhid yang bersifat menyeluruh ini selain melahirkan keyakinan akan ke-Maha-Esaan Allah (unity of Good head) juga melahirkan konsepsi ketauhidan yang lainnya dalam wujud keyakinan akan kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan pedoman hidup (unity of guidance), dan kesatuan tujuan hidup (unity of tbe purpose of life) umat manusia[7].

Sejalan dengan itu, ulama besar dan mufassir al-Qur`an Thabathaba’i mengatakan “tauhid, bila diuraikan akan menjadi keseluruhan Islam, dan bila Islam dirangkum akan diperoleh tauhid”. Tauhid bagaikan khazanah yang disatukan. Pada permukaannya akan kelihatan prinsip akidah yang sederhana, tapi apabila direntangkan ia akan meliputi seluruh alam. Artinya, keseluruhan Islam adalah suatu tubuh yang terbentuk dari berbagai anggota dan bagian, sedangkan jiwanya adalah tauhid. Ketika tauhid (sebagai ruh) terpisah dari anggota dan bagian itu (dalam bentuk amaliyah dan sikap), maka yang akan terbentuk hanyalah seonggokan bangkai yang tak bernyawa alias mati[8].

Manifestasi Tauhid dalam Kehidupan.

Tidak dipungkiri lagi tauhid merupakan basis seluruh keimanan, norma dan nilai. Tauhid mengandung muatan doktrin yang sentral dan asasi dalam Islam, yaitu memahaesakan Tuhan yang bertolak dari kalimat “La Ilaha Illallah” bahwa tidak ada Tuhan selain Allah[9]. Dengan mengakui bahwa tidak Tuhan selain Allah berarti mengakui Dia sebagai satu-satunya Pencipta, Penguasa dan Hakim dunia. Dari pengakuan ini dapat disimpulkan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan. Tujuan tersebut merupakan realisasi dari kehendak Tuhan yang menyangkut dunia yang merupakan panggung kehidupan manusia. Hal ini menuntut seorang muslim untuk menghadapi ruang dan waktu secara serius, karena kebahagiaan atau kecelakaan seseorang terletak pada pemenuhannya atas pola-pola Ilahi yang berkaitan dengan ruang dan waktu dimana dia berada. Tuhan telah memerintahkannya  untuk bertindak dengan bekerjasama dengan sesama muslim. Dalam Tauhid, kehidupan seorang muslim selalu berada dalam pengawasan Tuhan. Tuhan mengetahui segala sesuatu dan segala sesuatu dicatat dan diperhitungkan bagi pelakunya, baik berupa kebaikan maupun kejahatan. Kehendak Tuhan adalah benar-benar  relevan dan pola-polanya harus dipatuhi. Dengan demikian, tujuan manusia haruslah berupa aktualisasi pola-pola Ilahi di seluruh alam semesta[10].

Namun, dalam pandangan empiris secara umum, tauhid seolah hanya sebuah konsep yang membuat orang hanya mampu berkutat pada doktrin semata. Kesan yang timbul adalah tauhid hanyalah untuk diyakini dan diucapkan, tidak lebih. Tauhid tidak berhenti hanya sebatas doktrin, tapi harus ditunjukkan dengan sikap dalam kehidupan. Dengan itu akan lahirlah rasa kebahagiaan dan kedamaian dalam setiap dimensi kehidupan.

Peranan Tauhid Bagi Kemanusiaan

Tauhid, dengan serangkaian nilai yang dikandungnya, mendapatkan tantangan yang cukup besar. Dimana konsep tauhid tidak cukup hanya dipahami sebagai doktrin semata.  Sebagai muslim, tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati, tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, berarti semua ibadah murni (mahdhah) seperti shalat, puasa, haji, dan seterusnya memiliki dimensi sosial. Kualitas ibadah seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut mempengaruhi perilaku sosialnya[11].

Dalam wilayah kepentingan hidup umat manusia, konsepsi tauhid sesungguhnya mempunyai banyak dimensi aktual, salah satunya adalah dimensi pemerdekaan atau pembebasan dari segala macam perbudakan, (tahrirun nas min ‘ibadatil ‘ibad ila ‘ibadatillah)[12]. Diharuskannya manusia bertauhid dan dilarangnya menyekutukan Allah yang disebut syirik, bukanlah untuk kepentingan status-quo Tuhan yang memang maha merdeka dari interes-interes semacam itu, tetapi untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dengan demikian terjadi proses emansipasi teologis yang sejalan dengan fitrah kekhalifahan manusia di muka bumi. Manusia bukanlah sekadar abdi Allah, tetapi juga khalifah Allah di muka bumi ini. Karenanya, manusia harus dibebaskan dari penjara-penjara thaghut dalam segala macam konsepsi dan perwujudannya, yang membuat manusia menjadi tidak berdaya sebagai khalifah-Nya. Sehingga dengan keyakinan tauhid itu, manusia menjadi tidak akan terjebak pada kecongkakan karena di atas kelebihan dirinya dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya masih ada kekuasaan Allah Yang Maha segala-galanya. Selain itu, manusia diberi kesadaran yang tinggi akan kekhalifahan dirinya untuk memakmurkan bumi ini yang tidak dapat ditunaikan oleh makhluk Tuhan lainnya sehingga dirinya haruslah bebas atau merdeka dari berbagai penjara kehidupan yang dilambangkan thaghut. Dengan ketundukan kepada Allah sebagai wujud sikap bertauhid dan bebasnya manusia dari penjara thaghut maka hal itu berarti bahwa manusia sungguh menjadi makhluk merdeka di muka bumi, sebuah kemerdekaan yang bertanggungjawab selaku khalifah­Nya[13].

Karenanya, secara rasional dapat dijelaskan bahwa keyakinan kepada Allah yang Maha Esa sebagaimana doktrin tauhid mematoknya demikian, selain memperbesar ketundukan manusia dalam beribadah selaku hamba-Nya, sekaligus memperbesar dan mengarahkan potensi kemampuan manusia selaku khalifah-Nya di atas jagad raya ini. Dari proses pembebasan atau pemerdekaan ini akan melahirkan sikap manusia yang merdeka dan bertanggungjawab.

Dengan demikian, selain pada aras individual, tauhid memiliki dimensi aktualisasi bermakna pembebasan atau pemerdekaan pada aras kehidupan kolektif dan sistem sosial. Pembebasan Bilal sang hamba sahaya di zaman Rasulullah, adalah simbolisasi dari makna pembebasan struktural sistem sosial jahiliyah oleh sistem sosial yang berlandaskan tauhid. Bilal yang hitam dan hamba sahaya adalah perlambang dari kaum dhu’afa, kaum lemah dan tertindas dalam sistem berjuasi Arab Quraisy. Dengan landasan doktrin tauhid, kelompok dhu’afa dan mustadh’afin ini kemudian dimerdekakan dan diberdayakan, sehingga menjadi duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kelompok elit atas seperti Abu Bakr as-Shidieq, Usman bin Affan, dan lainnya. Dengan doktrin tauhid inilah kemudian Islam memperkenalkan sistem sosial baru yang berasas kesamaan (musawah), keadilan (‘adalah), dan kemerdekaan (huriyyah)[14].

Karenanya, dengan gagasan tauhid sebagai prinsip tata sosial yang merupakan aktualisasi tauhid ke dalam sistem sosial berbagai aspek kehidupan umat, seyogyanya muncul proses pemberdayaan dan pembebasan umat terutama pada kaum dhu’afa dari berbagai bentuk ekslpoitasi baik pada level individual maupun struktural. Setiap bentuk eksploitasi manusia oleh manusia lainnya dalam berbagai bentuk, bukan hanya bertentangan dengan fitrah dan rasa kemanusiaan, tetapi juga bertentangan dengan kehendak Tuhan dalam menciptakan umat manusia di muka bumi ini. Dengan kata lain, mereka yang benar-benar bertauhid, seyogyanyalah selalu peka dan terpanggil kesadarannya untuk memerdekakan, membebaskan, dan memberdayakan umat manusia dari segala macam eksploitasi yang membuat kehidupan ini menjadi nista, sekaligus jangan sampai terjangkiti penyakit yang menghancurkan hakikat kemanusiaan ini.

 

Daftar Pustaka

al-Faruqi, Isma’il Raji. 1988. Tauhid. (Terj). Bandung: Penerbit Pustaka

———1992. Islam Sebuah Pengantar. Bandung: Penerbit Pustaka

Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996

Mulia, Siti Musdah. Tauhid dan Risalah Keadilan Gender

Rais, Amin. Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997

Misbah, Muhammad Taqi. Monoteisme, Tauhid Sebagai Sistem Nilai Dan Akidah Islam. Jakarta, PT. Lentera Basritama. 1996

http://www.bankermakalah.blogspot.com/2007/03/menyeimbangkan-tauhid-individual dan.html/ diakses-ada:07/12/2008


[1] Isma’il Raji al-Faruqi. Tauhid. (Terj). Bandung, Penerbit Pustaka. 1988. 98-99 dan Isma’ol Raji al-Faruqi. Islam Sebuah Pengantar. Bandung, Penerbit Pustaka. 1992. 70-71

[2] QS. Shad [38]:82 dan QS. Al-Hijr [15]:36-40

[3] QS. Al-Mu’minun [23]:84-89

[4] Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996, 1

[5] Siti Musdah Mulia. Tauhid dan Risalah Keadilan Gender, dalam Modul Dawrah Fiqh Permpuan. 39-40

[6] Isma’il Raji al-Faruqi. Tauhid. 87

[7] Amin Rais, Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997. 18

[8] Misbah, Muhammad Taqi. Monoteisme, Tauhid Sebagai Sistem Nilai dan Akidah Islam. Jakarta: PT. Lentera Basritama. 1996. h.10-11.

[9] Muhammad Taqi Misbah. Monoteisme, Tauhid Sebagai Sistem Nilai Dan Akidah Islam. Jakarta, PT. Lentera Basritama. 1996.

[10] Isma’il Raji al-Faruqi. Tauhid. 92-93

[11] Amin Rais, Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997

[12] Ibid. 13-14

[13] Amir Tajrid, M.Ag, http://www.bankermakalah.blogspot.com/2007/03/menyeimbangkan-tauhid-individual dan.html/ diakses-pada:07/12/2008

[14] Ibid

Tagged with:
 

One Response to TAUHID SOSIAL: TRANSFORMASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERPERADABAN

  1. [...] TAUHID SOSIAL: TRANSFORMASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERPERADABAN [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>