ISLAM SEBAGAI SEBUAH PERADABAN: Eksposisi Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Peradaban Islam
Islam yang diturunkan sebagai agama (dÊn), sebenarnya juga membawa konsep peradaban di dalamnya. Sebab kata dÊn itu sendiri membawa makna keberhutangan, susunan kekuasaan, struktur hukum, dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang menaati hukum dan mencari pemerintah yang adil.[1] Artinya, dalam istilah dÊn itu tersembunyi suatu sistem kehidupan. Oleh sebab itu ketika dÊn (agama) Allah yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama MadÊnah.[2] Dari akar kata dÊn dan MadÊnah ini lalu dibentuk akar kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan.[3]
Dari akar kata madana lahirlah kata benda tamaddun yang secara literal berarti peradaban (civilization) yang berarti juga kota berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan kota (culture of the city). Di kalangan penulis Arab, perkataan tamaddun digunakan – kalau tidak salah – untuk pertama kalinya oleh Jurji Zaydan dalam sebuah judul buku TÉrÊkh al-Tamaddun al-IslÉmÊ (Sejarah Peradaban Islam), terbit 1902-1906. Sejak saat itu perkataan Tamaddun digunakan secara luas dikalangan umat Islam. Di dunia Melayu tamaddun digunakan untuk pengertian peradaban. Di Iran orang dengan sedikit berbeda menggunakan istilah tamaddon dan madaniyat. Namun orang-orang di Turki menggunakan istilah medeniyet dan medeniyeti. Orang-orang Arab sendiri pada masa sekarang ini menggunakan kata haÌÉrah untuk peradaban, namun kata tersebut tidak banyak diterima umat Islam non-Arab yang kebanyakan lebih menyukai istilah tamaddun.
Biasanya, kebanyakan orang memahami tamaddun (baca: peradaban) melalui bukti-bukti fisik, sehingga peradaban sering dinisbatkan kepada bangunan masjid-masjid, candi-candi, gedung-gedung, dsb. Namun, mereka lupa bahwa bangunan tersebut tidak akan pernah ada tanpa pikiran, kepercayaan, agama, ideologi dan yang terpenting adalah ilmu pengetahuan di balik itu semua. Jadi peradaban dan kebudayaan tidak dapat diukur dari kemajuan fisik saja. Pemahaman yang sama juga digunakan untuk melihat bangunan peradaban Islam. Peradaban Islam itu sangat komplek dan cakupannya seluas kehidupan itu sendiri. Sebab Islam adalah agama yang mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan yang bersifat menyeluruh. Secara konseptual peradaban Islam merupakan gambaran integral bagaimana keimanan atau keyakinan dalam Islam yang rasional dan berdimensi ilmu itu memancarkan ilmu pengetahuan dan mengejawantah dalam bentuk amal-amal. Hal ini tentu saja bukan omong kosong karena tercatat begitu jelas dalam sejarah Islam yang panjang.
Dalam makalah sederhana ini, penulis akan menguraikan sejarah Islam dari lahirnya hingga ekspansi yang pernah dilakukan, dan menjelaskan peradaban Islam yang ikut berkembang pesat di dalamnya.
B. KELAHIRAN ISLAM
Pada abad VI dan VII M, Makkah menjadi salah satu rute perdagangan yang menghubungkan India dan Cina dengan kerajaan Byzantium. Hal ini disebabkan karena terjadi peperangan terus-menerus antara Persia dan Byzantium yang mengganggu perdagangan di wilayah timur dari Mediterania, sehingga rute perdagangan dialihkan ke sebelah selatan, yaitu kota perdagangan yang makmur di dekat laut merah dan teluk Persia, yaitu Makkah. Di kota inilah Muhammad dilahirkan pada sekitar tahun 570 M. Dan di kota ini pulalah beliau kembali dengan membawa kejayaan pada tahun 630 M. Makkah menjadi kota suci bagi Nabi Muhammad dan umatnya.[4]
Muhammad yang terlahirkan sebagai anak yatim, bekerja pada seorang janda yang kaya bernama Siti Khadijah. Beliau banyak melakukan perjalanan dengan beberapa kafilah sehingga sering bertemu dengan kaum Yahudi dan Kristen. Bersama merekalah beliau mendiskusikan tentang apa yang selama ini bergejolak dalam hatinya yaitu tentang keesaan Tuhan. Dan sejak saat itulah, Muhammad sering melakukan meditasi di gua Hira.
Karena terpesona oleh kejujuran dan sifat-sifat mulia yang dimiliki Muhammad, Khadijah sangat menghormati dan mencintainya. Hingga ketika Muhammad berumur 25 tahun, Khadijah memintanya untuk menikahinya. Setelah menjadi suami istri, Khadijah tetap memberikan waktu kepada Muhammad untuk bermeditasi di gua Hira. Ketika usia Muhammad mencapai 40 tahun, untuk pertama kalinya beliau berkomunikasi dengan Allah melalui malaikat Jibril. Saat itu Jibril menyuruh Muhammad untuk membaca. Tapi dengan gemetar Muhammad menjawab bahwa ia tidak dapat membaca. Maka turunlah wahyu yang pertama.[5] Dan sejak saat itulah Muhammad diangkat menjadi Rasul terakhir yang mengajarkan Islam, yaitu kepatuhan kepada Allah. Esensi dari ajaran Islam terangkum dalam sebuah pernyataan “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah”.[6] Islam lahir menyempurnakan agama-agama sebelumnya yang ajaran agama-agama tersebut banyak diselewengkan oleh pemeluknya. Sebagai agama penyempurna, Islam memiliki kitab suci al-Qur’an yang merupakan kalamullah. Ia memuat hal-hal yang berhubungan dengan aqidah, syari’ah, cerita-cerita yang mengandung hikmah, berita tentang hari akhir, dan segala aspek kehidupan manusia. Agama Islam juga mengajarkan bahwa setiap muslim memiliki derajat yang sama. Tidak ada perbedaan antara orang Arab dan bukan Arab. Yang membedakan adalah tingkat keimanan dan ketakwaannya. Inilah yang menjadi titik awal dari penyatuan seluruh umat manusia dalam satu peradaban, yaitu peradaban Islam.[7]
C. DAKWAH ISLAM
a. Zaman Rasulullah dan Khulafa’urrasyidin
Nabi Muhammad berdakwah di Makkah selama kurang lebih 13 tahun. Dalam kurun waktu itu, beliau mendapatkan resistensi yang kuat dari kaum kafir Quraisy. Hal ini bisa dimaklumi karena pada periode awal dakwah, prinsip-prinsip mendasar dalam Islam seperti tauhid, pokok-pokok keimanan dan rukun Islam menjadi prioritas. Prinsip-prinsip tersebut bertentangan secara frontal dengan sistem kepercayaan dan sistem sosial penduduk Makkah.[8] Setelah berdakwah selama kurang lebih 13 tahun di Makkah, beliau mendapatkan perintah untuk berhijrah ke Madinah (sebelumnya bernama Yatstrib). Di kota inilah dakwah Islam mendapatkan sambutan yang luar biasa dari penduduk setempat (kaum Anshar). Seperti halnya Makkah, kota Madinah juga memiliki problem demografis yang tak terselesaikan. Masyarakat terpecah-pecah menjadi beberapa suku bangsa. Karena mereka tidak mampu menyelesaikan problem tersebut, mereka menginginkan ada pihak netral yang dapat menyelesaikannya. Maka diundanglah Muhammad dari Makkah untuk membantu mereka. Pada bulan September 622 M, Muhammad dan sahabat-sahabatnya tiba di Madinah.[9] Dan sejak saat itu, dakwah Islam mendapatkan kesuksesan yang sangat signifikan. Dan dari sinilah sebenarnya Islam sebagai sebuah peradaban mulai berkembang dengan pesatnya, yang dipimpin langsung oleh Rasulullah.
Rasulullah adalah seorang pemimpin agama dan juga pemimpin politik dari kota Madinah, Makkah, dan sebagian besar jazirah Arab. Negara Islam ini diatur oleh Muhammad dengan menggunakan syari’ah Islam yang menyangkut seluruh aspek kehidupan; perdagangan, warisan, perpajakan, dan perkara militer seperti harta rampasan dan tawanan perang. Saat itu Rasulullah mengontrol pasukan/tentara, melakukan negosiasi terkait perdamaian dengan Negara-negara tetangga, dan memberi hukuman kepada para pelanggar hukum sesuai syari’ah Islam. Khittah seperti ini diteruskan oleh generasi setelahnya yaitu Khulafa’urrasyidin yang memimpin umat Islam setelah wafatnya Rasul. Bahkan mereka mampu memperlebar wilayah kekuasaan kerajaan Islam. Seratus tahun setelah wafatnya beliau, sebagian besar umat manusia di Spanyol hingga Afrika Utara sampai sebelah barat India, hidup di bawah kekuasaan pemerintahan Islam Arab.[10]
Penyebaran Islam yang begitu pesat sering dihubungkan –khususnya oleh sejarahwan Kristen/Barat- dengan ajaran ‘jihad’ dalam Islam, yang sering diartikan sebagai perang suci.[11] Para sahabat dan tabi’in merasa bertanggung jawab untuk mengajak umat Islam melaksanakan jihad melawan kaum musyrik dan kafir. Saat itu, semangat dakwah Islam menjadi salah satu alasan umat Islam untuk melakukan ekspansi. Faktor lain yang mendukung kesuksesan tentara Islam dalam melaksanakan ekspansi adalah melemahnya kekuasaan Negara tetangga; Bizantium dan Persia. Dua kerajaan tersebut telah terlibat dalam peperangan selama berabad-abad. Penduduk di kedua wilayah itu sudah capek dengan peperangan yang berkepanjangan dan pajak yang tinggi. Oleh karena itulah, mereka tidak begitu menentang bangsa Arab yang datang karena mengharapkan pemerintahan yang lebih baik, yaitu dengan menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Islam. Dan salah satu wilayah yang pertama kali ditaklukkan oleh tentara Arab adalah Syria yang saat itu menjadi wilayah penting dari kerajaan Bizantium. Damaskus yang menjadi ibu kota wilayah itu, begitu mudah ditaklukkan pada tahun 635 M.[12] Dari Syria, tentara muslim menuju ke arah utara yaitu daerah Palestina dan Mesir. Dari pangkalannya di lembah sungai Nil, mereka lantas menuju Afrika Utara.[13] Sementara itu, sebagaian tentara muslim menuju ke arah timur laut yaitu di wilayah kerajaan Persia, lalu menaklukkan Iraq. Berulang kali mereka mengalahkan tentara Persia, dan selama 10 tahun setelah wafatnya Rasulullah, mereka berhasil menaklukkan kerajaan Persia secara keseluruhan.[14]
b. Zaman Dinasti Umayyah
Ekspansi umat Islam, bagaimanapun juga telah melahirkan sistem kekuasaan baru. Para panglima tentara dan gubernur dari provinsi baru menjadi lebih kuat kekuasaannya daripada khalifah di Makkah. Pada tahun 661 misalnya, gubernur Arab di Syria mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah dan menjadikan Damaskus sebagai pusat pemerintahan. Khalifah baru tersebut membangun Daulat Bani Ummayyah yang berkuasa hingga tahun 750 M. Di bawah pemerintahan Dinasti Umayyah inilah, kerajaan Islam lahir dan semakin luas wilayahnya. Pada masa itu, daerah di sepanjang barat laut pantai Afrika (Maroko), Algeria, dan Tunisia ditinggali oleh kaum Barbar yang nomaden. Di bawah kepemimpinan Dinasti Umayyah, tentara Arab bergerak menuju wilayah itu, menaklukkan bangsa Barbar, dan menjadikan mereka beragama Islam. Kemudian pada tahun 711 M, gabungan tentara Arab dan Barbar yang dipimpin oleh Tarik bin Ziyad menuju Spanyol dan berperang melawan tentara kerajaan Kristen, untuk kemudian berhasil menancapkan kekuasaan kerajaan Islam di sana. Selanjutnya, tentara Islam menuju perbatasan Spanyol dan Prancis yaitu di pegunungan Pirenes, lalu masuk ke wilayah barat daya Prancis. Pada tahun 732 M, Jendral Prancis Charles Martel berhasil mengalahkan tentara Islam di Tours dengan meyakinkan. Peperangan ini kemudian menjadi pembatas dari usaha tentara Islam untuk menaklukkan wilayah Eropa Barat. Namun demikian, kekuasaan Islam di Spanyol berlangsung selama lebih dari 700 tahun. Keturunan campuran antara Arab dan Barbar di Spanyol kemudian dikenal sebagai bangsa Moors yang pada perkembangan berikutnya menghasilkan peradaban Moors di Spanyol. Selama abad pertengahan, bangsa Moors Spanyol memberikan pengaruh penting pada perkembangan ilmu pengetahuan umat Kristen.[15]
Di wilayah timur jauh, kerajaan Islam memperluas wilayahnya hingga di daerah Sind (sekarang Pakistan). Pada abad I H, tentara Arab menaklukkan Kabul, lalu merebut daerah Sind. Sebanyak 724 gubernur Arab yang berkuasa di wilayah ini merupakan wakil khalifah secara langsung. Masyarakat di wilayah ini kemudian memeluk Islam hingga saat ini. Tentara Arab berulang kali menyerang Konstantinopel, ibu kota Byzantium. Pada pengepungan yang terkenal (717-718 M), tentara Konstantinopel berhasil menunda/menghalangi tentara Islam dengan merentangkan rantai besar di pintu gerbang pelabuhan. Untuk beberapa abad, pegunungan Pireni di sebelah barat dan Konstantinopel di sebelah timur membentuk batas antara kekuasaan Islam dan Kristen. Sementara itu lembah Indus memisahkan dunia Islam dan Hindu. Namun bagaimanapun juga, pada akhir abad I H, kekuasaan kerajaan Islam mencakup jumlah yang sangat besar dari umat manusia yang memiliki beragam budaya, bahasa, dan agama.[16]
c. Zaman Dinasti ‘Abbasiah
Wilayah Dinasti Umayyah yang sangat luas menjadikannya sulit untuk dikontrol. Sementara itu khalifah dan gubernur sibuk dengan urusan militer. Mereka tidak memperhatikan urusan perdagangan dan pertanian yang juga memegang peranan penting. Orang Islam non-Arab juga mulai ikut berperan dalam pemerintahan. Hal ini ditambah dengan semakin lemahnya kekuasaan Bani Umayyah. Maka terjadilah revolusi pada tahun 750 M. Pemerintahan baru terbentuk yang kemudian disebut sebagai pemerintahan daulat bani ‘Abbas/Dinasti ‘Abbasiah. Sebagaimana pemerintahan sebelumnya, dinasti ‘Abbasiah adalah keturunan dari bangsa Arab. Namun mereka berkomitmen bahwa setiap muslim –Arab maupun non-Arab- akan diperlakukan secara sama, sehingga memiliki kesempatan yang sama pula untuk ikut berperan aktif dalam pemerintahan.
Pemerintahan Dinasti ‘Abbasiah mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid. Saat itu, pusat pemerintahan dipindahkan dari Damaskus ke Baghdad. Banyak rute perdagangan melewati kota ini. Selain itu kota ini dikelilingi oleh tanah pertanian yang subur yang menyebabkannya menjadi salah satu kota yang paling maju pada abad ke-18 M. Lebih dari 100.000 pekerja diperkerjakan selama lebih dari empat tahun di pinggiran sungai Tigris. Selama kurang lebih 500 tahun, Baghdad menjadi pusat peradaban di dunia.[17]
Setelah berabad-abad, pemerintahan Dinasti ‘Abbasiah mulai melemah. Pemicunya adalah kemewahan yang melingkupi setiap khalifah sehingga membuat mereka terlena untuk mengurus pemerintahan. Sementara itu pajak semakin meningkat untuk mendukung kehidupan khalifah yang serba mewah. Hal ini diperparah dengan sikapnya yang tidak melindungi rute perdagangan yang belakangan banyak diganggu oleh perampok. Para petani juga tidak memperoleh harga yang pantas untuk hasil produksinya. Kebijakan pemerintah untuk memindahkan ibu kota dari Damaskus ke Baghdad sebenarnya mengurangi kontrol kerajaan di daerah Afrika Utara dan Spanyol. Sehingga pada tahun 900-an, gerakan perlawanan mulai tumbuh di seluruh wilayah kerajaan Islam. Yang paling menggelisahkan adalah di daerah Afrika Utara di mana penguasa baru muncul yang kemudian disebut sebagai Daulat Fatimiah yang menganggap sebagai keturunan dari putri nabi Muhammad, yang pada perkembangan berikutnya menyebabkan Mesir dan Tunisia jauh dari kekuasaan daulat ‘Abbasiah.[18]
Kekuasaan Dinasti ‘Abbasiah berakhir pada tahun 1200-an, yaitu ketika tentara Mongol yang dipimpin Jengis Khan bergerak ke Timur Tengah menghancurkan wilayah yang belum pernah berhasil direcovery hingga saat ini. Ketika itu, cucu Jengis Khan yang bernama Hulagu menghancurkan Baghdad dengan membakarnya pada tahun 1258. Lebih dari 100.000 umat Islam dan pemimpin mereka meninggal dunia. Dunia Islam dengan peradabannya yang tinggi hancur. Jutaan manusia di Asia tengah dan barat tewas. Tentara Mongol juga menghancurkan masjid, perpustakaan, dan jaringan irigasi. Hingga prajurit bayaran yang sangat kuat di Mesir yang disebut Mamluks berhasil menghentikan Mongol untuk menginvasi wilayah barat. Tapi mereka kembali lagi ke timur untuk meneror Iraq dan Persia dalam beberapa dekade. Lama-kelamaan, anak cucu keturunan tentara Mongolia menjadi muslim dan berasimilasi ke penduduk muslim di barat laut Asia.[19]
300 tahun setelah berdirinya Dinasti ‘Abbasiah, dunia Islam telah mengalami berbagai permasalahan politik dan agama. Namun, dari Spanyol sampai Mesir, dari Syria hingga ke India, umat manusia memiliki pemerintahan yang sama, satu agama, satu bahasa tulis, dan satu sistem, yaitu pemerintahan Islam. Meskipun terdapat pergolakan tapi tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban juga berkembang begitu pesat selama pemerintahan Dinasti ‘Abbasiah.
d. Zaman Dinasti Turki
Pada kisaran tahun 1000 M, bangsa Turki mengembara dari Asia Tengah menuju Persia (wilayah Dinasti ‘Abbasiah). Saljuk, salah seorang kepala suku yang kemudian memeluk Islam, memimpin suku yang kemudian dikenal sebagai bani Saljuk. Pada tahun 1055, bani Saljuk menyerbu Baghdad. Pada awalnya, tujuan mereka cuma berperang, namun pada perkembangan berikutnya, mereka juga sangat mengapresiasi peradaban Dinasti ‘Abbasiah yang sangat maju. Dan di bawah kekuasaan mereka, Baghdad terus berkembang menjadi pusat peradaban Islam selama kurang lebih 200 tahun. Penguasa Saljuk tidak memecat khalifah bani ‘Abbas, mereka diberi keluasan untuk meneruskan pemerintahannya. Namun sebagai gantinya penguasa Saljuk menamakan dirinya sebagai Sultan, penguasa sesungguhnya dari kerajaan Islam. Pada masa kekuasaan bani Saljuk ini, seluruh wilayah di Asia kecil berhasil ditaklukkan. Pada masa ini pula mereka mendorong terjadinya perang salib yang pertama yang dilatarbelakangi kepentingan agama dan ekonomi. Kerajaan Kristen di Byzantium cemas ketika gubernur Saljuk menghalangi ziarah orang kristen ke Palestina. Pada perang salib yang pertama, 1100 tentara Kristen berhasil menduduki Syria dan Palestina. Umat Islam dikejutkan oleh tindakan biadab tentara salib yang tidak hanya membunuh orang Islam tapi juga Yahudi dan Kristen Arab. Hal ini karena mereka tidak memahami bahasa Arab dan menganggap seluruhnya sebagai musuh Kristen. Mereka juga mengambil sains dan teknologi dari peradaban Islam yang kemudian dikembangkan di Eropa.[20]
Perdana menteri Saljuk di Mesir, Shalahuddin, telah menunggu berakhirnya pemerintahan Dinasti Fatimiah untuk kemudian merebut kekuasaannya. Dari basis kekuatannya di Mesir inilah Shalahuddin mempersiapkan diri untuk merebut kembali wilayah Palestina dan Syria yang dikuasai tentara salib. Pada tahun 1187, Shalahuddin menyerang tentara salib dan berhasil merebut Jerussalem. Tentara salib yang kalah kemudian mendeklarasikan perang salib yang ketiga yang disebut sebagai Kings’ Crusade karena tiga raja terkenal pada abad pertengahan memimpin perang tersebut; Frederick Barbarossa (Jerman), Richard the Lion-Hearted (Inggris), Dan Philip Augustus (Prancis). Sejarah mencatat bahwa Frederick kalah dan tidak pernah mampu mencapai Holy Land. Philip yang sangat murka karena Richard menolak tunduk kepadanya, tidak jadi memerangi Shalahuddin. Tercatat hanya Richard yang menegakkan kehormatan kerajaan Kristen. Shalahuddin dan Richard akhirnya mengadakan gencatan senjata selama 10 tahun dan mengizinkan peziarah untuk mengunjungi Jerussalem. Pada tahun 1193, Shalahuddin hampir saja menghancurkan tentara salib di timur.[21]
Sementara itu, umat Islam Turki di Mesir, Syria, dan Asia Kecil berhasil meraih prestasi tinggi dalam dunia Islam. Pengikut bani Saljuk yang berjumlah 1300 orang menaklukkan Asia Kecil ketika kerajaan Byzantium mulai melemah. Setelah beberapa kali menyerang, Turki Utsmani berhasil mengontrol sebagian besar wilayah Asia kecil. Pada tahun 1453, tentara Turki Utsmani berhasil melakukan apa yang telah dicoba bangsa Arab selama 750 tahun, yaitu menakukkan Konstantinopel. Kemudian mengganti namanya menjadi Istanbul yang berarti the City of Islam.[22] Kemudian melebarkan sayapnya di Eropa tenggara yang sekarang dikenal sebagai Hungaria, Yugoslavia, Romania, Yunani, Albania, dan Bulgaria. Turki Utsmani kemudian berusahan untuk menyatukan lagi wilayah Islam di timur tengah. Pada tahun 1500 mereka berhasil menyatukan seluruh wilayah Islam dan juga mengancam kerajaan Kristen di Eropa Barat. Jantung dari pemerintahan Turki Utsmani adalah istana Topkapi di Istanbul. Selama 400 tahun, istana ini menjadi pusat pemerintahan. Saat ini, istana tersebut menjadi salah satu museum Islam terbesar dan terlengkap di dunia.[23]
D. PERADABAN ISLAM
a. Islam Sebagai Sebuah Peradaban
Terkait dengan penaklukan wilayah Asia Barat, Afrika Utara, dan Spanyol yang sebelumnya merupakan daerah kekuasaan kerajaan Kristen Romawi, Demitri Gutas dengan jelas mengakui bahwa Islam merupakan sebuah peradaban, “…..pada tahun 732 M kekuasaan dan peradaban baru didirikan dan disusun sesuai dengan agama yang diwahyukan kepada Muhammad, Islam, yang berkembang seluas Asia Tengah dan anak benua India hingga Spanyol dan Pyrennes.”[24] Pemerintahan dan peradaban Islam tersebut menggeser kekuasaan Romawi.
Namun demikian, sudah tentu proses kejatuhan Romawi tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Edward Gibbon dalam The Decline And Fall Of The Roman Empire menyatakan bahwa penyebab kejatuhan Romawi merupakan kombinasi dari berbagai faktor, seperti problem agama Kristen, dekadensi moral, krisis kepemimpinan, keuangan dan militer. Dan di antara faktor terpenting penyebab kajatuhan Romawi adalah datangnya Islam. meskipun Nabi Muhammad tidak pernah pergi menyerang Romawi Barat maupun Timur, tapi datangnya gelombang peradaban Islam telah benar-benar menjadi faktor penyebab kejatuhan Romawi.[25] Ini juga merupakan bukti bahwa Islam sebagai dÊn yang menghasilkan tamaddun dapat diterima oleh bangsa-bangsa selain Arab. Sebab Islam membawa sistem kehidupan yang teratur dan bermartabat, sehingga mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Jadi Islam diterima oleh bangsa-bangsa non-Arab karena universalitas ajarannya atau dengan kata lain karena kekuatan pancaran pandangan hidupnya.
Jadi, Islam cepat menyebar karena kekuatan konsepnya yang bisa masuk kedalam pandangan hidup masyarakat daerah yang ditaklukkan waktu itu. Ini bukti bahwa Islam tersebar bukan melulu karena pedang. Islam tersebar, menguasai dan menyelamatkan (mengislamkan) masyarakat di kawasan-kawasan yang didudukinya. Tidak ada eksploitasi sumber alam untuk dibawa ke daerah darimana Islam berasal. Tidak ada pertambahan kekayaan bagi jazirah Arab. Tidak ada kemiskinan akibat masuknya Muslim ke kawasan yang didudukinya. Daerah-daerah yang dikuasai atau diselamatkan ummat Islam justru menjadi kaya dan makmur. Itulah watak peradaban Islam yang sangat berbeda dari peradaban Barat yang eksploitatif. Maka tak heran jika Thomas W. Arnold dengan jujur mengatakan bahwa penaklukan-penaklukan yang dilakukan umat Islam, yang meletakkan fondasi bagi kekaisaran Arab, tentu saja bukan hasil dari perang suci (jihad), yang dilakukan untuk mendakwahkan Islam seperti yang dituduhkan orientalis. Namun penaklukan ini diikuti dengan aksi besar-besaran meninggalkan agama Kristen, sehingga inilah yang sering diduga sebagai tujuannya. Dengan demikian pedang dipandang oleh sejarahwan Kristen sebagai alat propaganda kaum Muslim. Dan mengingat keberhasilannya, maka bukti-bukti adanya aktivitas dakwah Islam yang sebenarnya menjadi kabur.[26]
b. Substansi Peradaban Islam
Para sarjana Muslim kontemporer umumnya menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam paradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanen. Prinsip-prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tawÍÊd), supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintahNya (syariat).[27] Sejalan dengan Sayyid Qutb, Syeikh Muhammad Abduh menekankan bahwa agama atau keyakinan adalah asas segala peradaban. Bangsa-bangsa purbakala seperti Yunani, Mesir, India, dll, membangun peradaban mereka dari sebuah agama, keyakinan atau kepercayaan. Arnold Toynbee juga mengakui bahwa kekuatan spiritual (batiniyah) adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang melahirkan manifestasi lahiriyah (outward manifestation) yang kemudian disebut sebagai peradaban itu.[28] Jika agama atau kepercayaan merupakan asas peradaban, dan jika agama serta kepercayaan itu membentuk cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tindakan nyatanya atau manifestasi lahiriyahnya, maka berarti ini sejalan dengan teori modern bahwa pandangan hidup (worldview) merupakan asas bagi setiap peradaban dunia.
Meski para pengkaji filsafat berbeda pendapat tentang makna worldview, mereka pada umumnya mengaitkan worldview dengan peradaban atau seluruh aktivitas ilmiah, sosial dan keagamaan seseorang. Ninian Smart, pakar kajian perbandingan agama, memberi makna worldview sebagai “kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.”[29] Secara filosofis Thomas F Wall, memaknai worldview sebagai “sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi”.[30] Dalam kaitannya dengan aktivitas ilmiyah Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktivitas-aktivitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktivitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, artinya aktivitas manusia dapat direduksi kedalam pandangan hidup itu.[31] Singkatnya, worldview berkaitan erat secara konseptual dengan segala aktivitas manusia secara sosial, intelektual dan religius. Dan yang terpenting adalah bahwa worldview sebagai sistem kepercayaan, pemikiran, tata pikir, dan tata nilai memiliki kekuatan untuk merubah. Maka dari itu, aktivitas manusia dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya yang kemudian menjadi peradaban bersumber dari worldview. Jika makna worldview adalah konsep nilai, motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah, maka Islam mengandung itu semua. Islam bahkan memiliki pandangan terhadap realitas fisik dan non fisik secara integral. Ayat-ayat al-Qur’an jelas-jelas memproyeksikan pandangan Islam tentang alam semesta dan kehidupan yang disebut pandangan hidup atau pandangan alam Islam (worldview, al-taÎawwur al-IslÉmÊ, al-mabda al-IslÉmÊ).[32] Bukan hanya itu, konsep-konsep itu diberi medium pelaksanaannya yang berupa institusi yang disebut dÊn, yang di dalamnya terkandung konsep peradaban (Tamaddun). Oleh sebab itu dalam Islam worldview memiliki istilahnya sendiri. Bagi al-Mawdudi worldview Islam adalah Islami NazariyÉt (Islamic Vision) yang berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahÉdah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia….secara menyeluruh”.[33] Menurut Sayyid Qutb worldview Islam adalah al-taÎawwur al-IslÉmÊ, yang berarti “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.”[34] S.M. Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-IslÉm li al-wujËd).[35]
Jadi sebagaimana peradaban lainnya, substansi peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang meliputi keseluruhan pandangan tentang wujud, terutamanya pandangan tentang Tuhan. Oleh sebab itu teologi (aqÊdah) dalam Islam merupakan fondasi bagi tata pikir, tata nilai dan seluruh kegiatan kehidupan Muslim. Itulah pandangan hidup Islam. Jika pandangan hidup itu berakumulasi dalam tata pikiran seseorang ia akan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupannya dan akan menghasilkan etos kerja dan termanifestasikan dalam bentuk karya nyata. Dan jika ia memancar dari pikiran masyarakat atau bangsa maka ia akan menghasilkan falsafah hidup bangsa dan sistem kehidupan bangsa tersebut. Jadi substansi peradaban Islam adalah pandangan hidup Islam. Namun elemen pandangan hidup yang terpenting adalah pemikiran dan kepercayaan.
Menurut Ibn Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu 1) kemampuan manusia untuk berpikir yang menghasilkan sains dan teknologi 2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer dan 3) kesanggupan berjuang untuk hidup.[36] Jadi kemampuan berpikir merupakan elemen asas suatu peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemapuan intelektual tertentu. Suatu peradaban hanya akan wujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf hidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana. Dalam hal ini pendidikan merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran, namun yang lebih mendasar lagi dari pemikiran adalah struktur ilmu pengetahuan yang berasal dari pandangan hidup. Hal seperti ini sudah jelas pernah dicapai oleh umat Islam pada kurun waktu 900 s.d. 1100 M. Suatu masa di mana Peradaban Islam telah mencapai puncak kejayaannya.
c. Industri, Pertanian, dan Perdagangan pada Masa Keemasan Islam
Pemerintahan kerajaan Islam yang berlangsung mulai dari pertengahan 600 hingga pertengahan 1200, mencapai masa keemasan antara tahun 900-1100 M. agama dan pemerintah pada masa ini tidak dapat dipisahkan. Khalifah adalah pemimpin agama dan pemerintahan sekaligus. Qu’ran menjadi landasan dasar dari keduanya. Pertanian dan industri tumbuh subur menjadikan kerajaan Islam sebagai kerajaan termakmur dalam sejarah. Tentara Islam yang menaklukkan suatu wilayah tidak merusak peradaban yang sudah tumbuh di wilayah tersebut, tapi justru mengembangkannya. Seperti halnya yang terjadi di Persia dan Byzantium yang sudah memiliki perencanaan kota yang baik, pasar, kerajinan tangan, dan pertanian, dijaga dengan baik oleh bangsa Arab. Mereka juga menerjemahkan karya-karya Romawi, Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab.[37] Semua hukum dan surat-menyurat resmipun menggunakan bahasa Arab meskipun di wilayah yang sebagian besar penduduknya berbicara bahasa Persia atau Yunani. Lebih dari itu, mereka yang memeluk Islam, secara otomatis belajar bahasaa Arab untuk bisa mengerjakan shalat dan membaca al-Qur’an. Hasilnya, bahasa Arab dengan cepat diadapsi oleh seluruh penduduk yang hidup di Afrika Utara dan Timur Tengah sebagai bahasa daerah atau bahasa percakapan sehari-hari. Penyebaran bahasa Arab ini merupakan salah satu kontribusi terbesar Arab untuk kemajuan peradaban Islam. Pertukaran budaya juga berlangsung begitu dahsyat. Umat Islam dengan berbagai latar budayanya memberikan kontribusi positif untuk membangun peradaban Islam. Mereka itu adalah non-Arab dan non muslim. Orang Mesir, Persia, Turki, Yahudi, Syria, Kristen, Yunani, Armenia, India, Barbar dan bangsa Afrika lainnya memberikan ide, gagasan, dan budaya masing-masing di dunia Islam.[38] Masa pemerintahan kekhalifahan Umayyah dan ‘Abbasiah adalah masa yang damai sehingga memungkinkan umat Islam untuk mengembangkan pertanian dan perdagangan dengan tanpa penghalang. Para khalifah membangun proyek irigasi yang sangat besar di Mesir, Mesopotamia, dan Persia. Kemudian juga mengembangkan sains dalam bidang pertanian terutama penggunaan pupuk. Gandum dan padi-padian lain tumbuh subur di Mesir. Kapas dan tebu dikembangkan di Afrika Utara. Buah-buahan, minyak zaitun, dan anggru diproduksi di Spanyol. Sementara itu, industri berkembang di pusat-pusat kota. Baghdad tercatat sebagai pusat industri barang pecah-belah, perhiasan, sutra, dan barang-barang mewah. Kordoba dikenal sebagai pusat industri kulit, Damaskus sebagai pusat industri besi, linen, katun, dsb. Persia dan Syria terkenal dengan produk karpetnya yang indah dan tahan lama. Pengrajin Arab dan Persia mempelajari industri emas, perak dan perunggu yang telah berkembang di Byzantium. Pekerja muslim dan Kristen membentuk serikat pekerja untuk memakmurkannya.
Dalam dunia bisnis, umat Islam menganggap berdagang sebagai profesi yang mulia. Karena pada masa pemerintahan kerajaan Islam, perdagangan merupakan bisnis terbesar melebihi industri atau pertanian. Selama pemerintahan Islam, tidak ada perdagangan yang dibatasi seperti pajak, kewajiban bagi importir, atau batasan antar wilayah. Istilah-istilah bisnis seperti tariff, traffic, check, bazaar, dan caravan datang dari bahasa Arab. Sistem perbankan yang kompleks di dunia Islam sudah dikembangkan tiga abad sebelum di Eropa barat. Bank sentral memiliki cabang di kota-kota.[39] Perdagangan yang tumbuh subur menembus batas-batas wilayah Negara Islam. Cina, India, Eropa, Rusia, Afrika Barat, tengah dan Timur, semuanya merupakan partner dari kekhalifahan Islam dalam berdagang. Para pedagang muslim berani membuka rute perdagangan baru melalui Asia timur, berlayar ke India dan Cina melalui laut merah, teluk Persia, dan samudera India. Hal ini terjadi jauh sebelum pelayar Barat menempuh rute melalui Atlantik, Afrika menuju ke timur. Selama berdagang, mereka juga menyebarkan agama Islam di daerah Afrika Timur dan Barat, India, Cina, dan Asia Tenggara.
d. Sains dan Seni Tumbuh Subur
Sebelum datangnya Islam, bangsa Arab hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya. Namun gairah yang besar untuk berdagang dan mengembara setelah berkuasanya Islam, menuntut mereka untuk menguasai ilmu matematika dan astronomi. Pemerintahan Dinasti Umayyah dan ‘Abbasiah sangat toleran terhadap ide-ide baru. Bahkan di antara penguasa-penguasa awal Dinasti ‘Abbasiah gencar menerjemahkan karya-karaya Yunani dan memberikan beasiswa untuk menuntut ilmu sains dan filsafat Yunani. Pada perkembangan berikutnya ilmuwan-ilmuwan Arab dan Persia juga memberikan kontribusi yang besar pada penemuan teori di bidang kedokteran, matematika, astronomi, kimia, dan fisika.[40]
Kedokteran
Pengobatan Islam mungkin merupakan prestasi ilmuwan muslim paling terkenal. Pada saati itu, Rumah sakit yang besar biasanya berasosiasi dengan sekolah kedokteran dan dibangun di pusat kota. Ajaran Islam yang mengharuskan untuk menyayangi orang miskin dan mengasihi yang lemah, mendorong para penguasa Islam untuk memberikan pelayanan kesehatan yang memadai. Dan salah satu rumah sakit terbesar yang pernah ada adalah yang dibangun oleh Khalifah Harun Arrasyid di Baghdad pada abad 8 M. Salah satu dokter yang terkenal adalah al-Razi dari Persia yang hidup pada abad 9 M. Beliau dilahirkan di kota Rayy tapi bekerja di Baghdad. Al-Razi merupakan orang Arab pertama yang melaksanakan pengobatan dengan metode yang komprehensif. Ia dikenang sebagai orang pertama yang membahas tentang pengobatan penyakit cacar dan campak dengan sangat akurat.[41] Dia mengarang berbagai buku ilmiah diantaranya; a Treatise on Small-pox and Measles, The Book of Medicine Dedicated to Mansur, The Comprehensive Book of Medicine.[42] Tabib muslim yang lain ahli dalam pengobatan mata. Pada abad 10 M, ibnu Sina melahirkan karya Canon of Medicine yang menjadi rujukan standar kedokteran Eropa hingga abad 17.[43]
Fisika dan Kimia
Prestasi yang luar biasa juga dicapai dalam bidang fisika dan kimia. Fisikawan muslim asal Persia, al-Hazen, yang hidup pada tahun 965-1039 M menantang pandangan Yunani yang mengatakan bahwa mata mengirimkan sinar kepada objek yang dilihat. Al-Hazen mengatakan bahwa, yang benar, orang dapat melihat sebuah objek karena objek tersebut mengirimkan bayangan dari sinar kepada mata.
Terkait dengan dunia kedokteran, juga berkembang alchemy yang berasal dari bahasa Arab yang artinya ‘seni mencampur logam’. Alchemy dikembangkan dari pengetahuan Mesir klasik dan Cina. Para ahli kimia bekerja mengkombinasikan antara logam yang satu dengan lainnya untuk mendapatkan logam yang lebih kuat atau lebih indah. Kimiawan muslim berusaha untuk mengubah timah menjadi logam yang lebih berharga seperti emas. Meskipun mereka tidak berhasil, namun eksperimannya telah berhasil menyempurnakan metode analisa materi yang belakangan menjadi dasar dari ilmu kimia modern. Sebagai contoh adalah metode penyulingan dan kristalisasi yang mencakup proses meleleh, mendidih, menguap, menyaring. Mereka juga menemukan material baru seperti tawas, borax, nitric, sulfuric acids, carbonate of soda, tartar, antimony, dan arsenic.[44]
Antropologi
Bagi banyak ilmuwan, antropologi adalah disiplin ilmu produk dari kolonialisasi Barat. Namun sebenarnya ilmu ini pertama kali berkembang di dunia Islam. Adalah Abu Raihan Muhammad Al-Baruni (973-1048) orang pertama yang berhak mendapat gelar bapak Antropologi Dunia. Beliau lahir di Khwarizm (Khiva) dan tinggal di Afrika Utara[45]. Karyanya yang paling fenomenal terbit di India, Kitab al-Hind, atau juga dikenal dengan Investigation of India. Kitab ini ditulis selama kurang lebih 13 tahun (1017-1031) yang berisi pembahasan tentang struktur masyarakat India yang terdiri dari beberapa kasta. Dengan metode yang sangat teliti, ia berhasil menampilkan wajah peradaban India.[46]
Astronomi dan Matematika
Dunia astronomi juga berkembang dengan pesat, karena umat Islam membutuhkan perhitungan waktu yang tepat untuk shalat, haji, dan penentuan awal bulan hijriah. Ibnu Batuta adalah pelopor pembuatan peta yang kaya akan informasi geografis. Berdasarkan pada penemuan Ptolemy dan ilmuwan Yunani lainnya, astronom Arab menemukan pengukuran yang lebih akurat tentang penghitungan tahun masehi, mengkalkulasikan gerhana, dan membuat atlas. Dalam bidang matematika, ilmuwan Arab adalah yang pertama kali menggunakan simbol x untuk mengganti bilangan yang tidak diketahui untuk menyelesaikan sebuah persamaan. Penemuan yang juga sangat penting adalah analisa geometri dan trigonometri.[47]
Sejarah dan Sosiologi
Dalam bidang sejarah dan sosiologi, Ibnu Khaldun tampil sebagai pionir. Karya terbesarnya Kitab al-Ibar yang mendapat penghargaan tinggi dari banyak ilmuwan, berisi tentang sejarah dunia yang mencakup filsafat, logika, tentang suku-suku, matematika, iklim di dunia Arab dan lain sebagainya. Beliau merupakan ahli hukum, sejarawan, pengembara, dan negarawan handal. Teori-teori modern seperti Karl Marx’s stages of human history, Max Webber’s typology of leadership, Vilfredo Pareto’s circulation of elites, Ernest Gellner’s pendulum swing theory of Islam, dsb banyak dipengaruhi oleh teori-teori Ibnu Khaldun.[48]
Arsitektur
Orang-orang Islam juga sangat mahir dalam dunia arsitektur. Mereka selalu mendirikan masjid, tempat tinggal, dan istana yang megah di setiap wilayah yang baru ditaklukkan. Salah satu style yang dikembangkan dalam dunia arsitektur adalah penggunaan kubah, menara, loteng, lengkungan berbentuk tapal kuda, dan penggunaan ornamen di dinding. Para penguasa muslim juga mendirikan istana dan rumah-rumah untuk masyarakat. Kota dibangun dengan indah agar masyarakat betah tinggal di dalamnya. Damaskus dan Baghdad adalah dua kota yang sangat maju dan hingga sekarang masih banyak peninggalan yang bisa dimanfaatkan. Pada abad XI di Kordova, jalan-jalan sudah dipaving dan dipasangi penerangan, rumah-rumah dilengkapi dengan air panas dan dingin yang selalu mengalir, terdapat kurang lebih 80.000 bangunan toko, 3.000 masjid, 113.000 rumah dengan populasi penduduk mencapai 500.000.
Filsafat
Filosuf Arab terbesar adalah al-Kindi. Ia bekerja di Baghdad semasa pemerintahan al-Makmun. Ia telah melahirkan 242 essai yang mencakup permasalah logika, metafisika, aritmatika, musik, astronomi, geometri, pengobatan, astrologi, psikologi, politik, dan kimia. Kebanyakan buka karangan al-Kindi telah hilang. Yang tersisa hanyalah kertas kerja tentang filsafat. Al-Kindi tidak sepakat dengan pandangan Aristotels bahwa realitas kosmos itu abadi. Dia mempertahankan doktrin penciptaan, mempercayai kebangkitan jasad, dan kevalidan wahyu Nabi Muhammad. Dia mensubordinatkan filsafat kepada Agama. Ia mendukung logika Aristotels namun menyakini bahwa filsafat harus tunduk kepada wahyu apabila keduanya bertentangan.[49] Selain itu juga terdapat nama Al-Farabi (870-950), yang di Eropa dikenal sebagai Abunaser. Ia merupakan filosuf dari Persia yang berusaha menyatukan filsafat Yunani dan Islam, serta menerapkan filsafat pada dunia politik. Ia dilahirkan di distrik Farab (sekarang adalah daerah Kazakhstan), besar di Damaskus. Pada tahun 902-908, ia pindah ke Konstantinopel untuk belajar filsafat. Kemudian 910-920 ke Baghdad untuk mengajarkan filsafat. Dia sangat menguasai pandangan-pandangan Plato dan Aristotels. Menurutnya, urutan ilmu pengetahuan jika dirangking adalah; linguistic, logika, matematika, fisika, metafisika, politik, hukum, dan teologi. Al-Farabi berusaha mengharmonisasikan filsafat Yunani dengan teologi Islam, tapi dia mensubordinatkan wahyu kepada akal.[50]
Filosuf lain yang tak kalah hebatnya adalah Ibnu Rusyd (1126-1198) yang lahir di Kordoba. Dalam filsafat, ia bermadzhab Aristotelian yang menganggap bahwa logika deduktif merupakan epistemology yang superior. Jika sesuatu berlawanan dengan logika aristotels maka sesuatu itu pasti tidak benar. Sebagai murid Aristotels, tujuan utama dia ada dua; ia berusaha untuk mengeluarkan pengaruh neoplatonisme dari aristotelianisme yang salah yang pernah dikemukakan oleh Ibnu Sina. Kedua, sebagai seorang muslim, ia berusaha merekonsiliasi filsafat Aristotels dengan teologi Islam.[51]
E. PENUTUP
Risalah Islam yang disampaikan oleh Rasulullah ternyata tidak hanya mencakup aqidah dan syari’ah saja seperti yang diyakini oleh sebagian muslim. Lebih dari itu, ia merupakan sebuah way of life yang di dalamnya terdapat jejaring konsep yang menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Jejaring konsep tentang alam inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Islamic worldvew yang pada gilirannya menjadi asas dari tradisi intelektual sebagai dasar dari tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam.
Secara historis, tradisi intelektual dalam Islam dimulai dari pemahaman (tafaqquh) terhadap al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, secara berturut-turut dari periode Makkah awal, Makkah akhir dan periode Madinah. Kesemuanya itu menandai lahirnya –meminjam istilah al-Attas– pandangan alam Islam/rukyatu al-Islam li al-wujud (baca: worldview Islam). Di dalam al-Qur’an ini terkandung konsep-konsep yang kemudian dipahami, ditafsirkan dan dikembangkan oleh para sahabat, tabiin, tabi’ tabiin dan para ulama yang datang kemudian. Konsep ‘ilm yang dalam al-Qur’an bersifat umum, misalnya dipahami dan ditafsirkan para ulama sehingga memiliki berbagai definisi. Cikal bakal konsep Ilmu pengetahuan dalam Islam adalah konsep-konsep kunci dalam wahyu yang ditafsirkan kedalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kokoh. Jadi Islam adalah suatu peradaban yang lahir dan tumbuh berdasarkan teks wahyu yang didukung oleh tradisi intelektual.
Seperti tersaji di awal, peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun oleh ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan oleh pandangan hidup Islam. Maka dari itu, pembangunan kembali peradaban Islam harus dimulai dari pembangunan ilmu pengetahuan Islam. Di Barat ide-ide para pemikir, seperti Descartes, Karl Marx, Emmanuel Kant, Hegel, John Dewey, Adam Smith dan sebagainya menjadi rujukan dan merubah pemikiran masyarakat. Demikian pula dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran para ulama seperti Imam Syafii, Hanbali, Imam al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan lain sebagainya mempengaruhi cara berfikir masyarakat dan bahkan kehidupan mereka. Jadi membangun peradaban Islam harus dimulai dengan membangun pemikiran umat Islam, meskipun tidak berarti kita berhenti membangun bidang-bidang lain. Artinya, pembangunan ilmu pengetahuan Islam hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam. Wallahu a’lam bi al-shawab.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Jabbar Beg, Muhammad. 1983. dalam The Muslim World League Journal, edisi November-Desember.
Acikgence, Alparslan. 1996. “The Framework for A history of Islamic Philosophy”, Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), 1996, jilid1. Nomor 1&2,
______________. 2000. Scientific Thought And Its Burdens, An Essay in the History and Philosophy of Science, Fatih University Publications. Istanbul.
Ahmed, Akbar S. 1987. Discovering Islam: Making Sense of Muslim History and Society, Revised Edition. Routledge. London.
al-Attas, S.M.N. 1995. Islam, Religion and Morality, dalam Prolegomena to the Metaphysics of Islam. ISTAC. Kuala Lumpur.
______________. 1995. dalam Prolegomena to The Metaphysics of Islam An Exposition of the Fundamental Element of the Worldview of Islam. ISTAC. Kuala Lumpur.
Al-Faruqi, Isma’il Raji, dan Al-Faruqi, Lois Lamya. 2003. The Cultural Atlas of Islam, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan. Atlas Budaya Islam. Penerbit Mizan. Bandung.
Al-MawdËdÊ. 1967. The Process of Islamic Revolution. Lahore.
Arnold, Thomas W. 1961. The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith. Sh. M. Ashraf. Lahore.
Deming, David. 2010. Science and Technology in World History, Volume 2: Early Cristianity, the Rise of Islam and the Middle Ages. McFarland & Company, Inc. North Carolina.
Encyclopedia Britannica. Eleventh Edition, 1911, Medicine, Vol. 18. Encyclopedia Britannica Company. New York
Etheredge, Laura S. Ed. 2010. Islamic History (The Islamic World), 1st edition. Britannica Educational Publishing. New York.
Gibbon, Edward. 1979. The Decline and The Fall of Roman Impire. Bison Books Ltd. London.
Gutas, Dimitri. 1988. Greek Thought, Arabic Culture. Routledge. London.
KhaldËn, Ibn, ‘Abd al-RaÍmÉn Ibn MuÍammad. 1978. The Muqaddimah: an Introduction to history, Penerjemah Franz Rosenthal, 3 jilid, editor N.J. Dawood. Routledge & Kegan Paul. London.
ManÐËr, Ibn. 1988. LisÉn al-‘Arab al-MuÍÊÏ. DÉr al-Jayl & DÉr LisÉn al-’Arab. Jilid 13. Beirut.
Qutb, M.Sayyid. MuqawwamÉt al-TaÎawwur al-IslÉmÊ, DÉr al-ShurËq, tt.
Smart, Ninian. Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief. Charles Sribner’s sons, n.d. New York.
Wall, Thomas F. 2001. Thinking Critically About Philosophical Problem, A Modern Introduction. Wadsworth, Thomson Learning. Australia.
[1]Al-Attas, Islam, Religion and Morality, dalam Prolegomena to the Metaphysics of Islam, ISTAC, 1995, hal. 43-44
[2]Sebelumnya kota Madinah dikenal dengan nama Yathrib.
[3]Ibn ManÐËr. LisÉn al-‘Arab al-MuÍÊÏ. (Beirut: DÉr al-Jayl & DÉr LisÉn al-’Arab, 1988) jilid13; hal. 402
[4]The Rise and Expansion of Islam, hal. 250.
[5]Laura S. Etheredge, Ed., Islamic History (The Islamic World), 1st edition, (New York: Britannica Educational Publishing, 2010), hal. 35.
[6]The Rise and Expansion of Islam, hal. 251.
[7]Ibid, hal. 252.
[8]Laura S. Etheredge, Ed., Op. Cit., hal. 35-39.
[9]Ibid, hal. 40.
[10]Ibid, hal. 252.
[11]Tesis yang mengatakan bahwa Islam tersebar karena ajaran jihad sering dilontarkan oleh orientalis Barat. Tesis semacam ini tentu sangat problematik karena tidak sesuai dengan realitas sejarah. Lihat Isma’il Raji Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan, Atlas Budaya Islam, (Bandung: Penerbit Mizan: 2003) pada bab futuhat.
[12]Pada awalnya, Abu Bakar mengirim tentara di bawah komando ‘Amr bin Al-‘Ash, Syurahbil bin Hasanah, dan Yazid bin Abu Sufyan masing-masing kePalestina, Yordania, dan Syria. Yazid bertempur dan mengalahkan Byzantium di Wadi ‘Arabah, sebelah barat daya laut mati, dan berhasil membunuh komandan Yunani, Sergius. Setelah itu, pasukan Khalid juga berhasil mengalahkan tentara Byzantium di Qaryatain dan Marj Rahith. Tentara Khalid kemudian menuju Bushra dan Al-Fihl. Kedua kota ini menyerah. Baru setelah itu pasukan islam menuju Damaskus dan berhasil menaklukkannya tanpa perlawanan. Kemenangan tentara Islam di Syria ini telah sampai ke Abu Bakar, namun beberapa hari setelah itu beliau wafat. Kemudian posisinya digantikan oleh Umar bin Khattab yang berikutnya menunjuk Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah sebagai gubernur Syria. Lihat Isma’il Raji Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan, Atlas Budaya Islam, (Bandung: Penerbit Mizan: 2003), hal. 246-247.
[13]Khalifah Umar bin Al-Khattab menyusun tentara dan menunjuk Amr bin al-Ash sebagai komandannya untuk membawa Islam ke Mesir. Cyrus, uskup agung Aleksandria dan wakil kaisar yang ditugaskan mempertahankan Babylonia setuju membayar upeti kepada ‘Amr bi Al-‘Ash, menjaga perdamaian. Lihat Ibid, hal. 249.
[14]The Rise and Expansion of Islam, hal. 253.
[15]Ibid.
[16]Ibid., hal. 254.
[17]Ibid., hal. 257.
[18]Ibid., hal. 259.
[19]Laura S. Etheredge, Ed., Op. Cit., hal. 136-137.
[20]The Rise and Expansion of Islam, hal. 260.
[21]Ibid.
[22]Akbar S. Ahmed, Discovering Islam: Making Sense of Muslim History and Society, Revised Edition, (London: Routledge, 1987), hal. 66.
[23]Ibid.
[24]Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture, (London: Routledge, 1988), hal. 13.
[25]Edward Gibbon, The Decline and The Fall of Roman Impire, Abridged and Illustrated London, United Kingdom, Bison Books Ltd. 1979, hal. 1.
[26]Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, (Lahore: Sh. M. Ashraf, 1961), hal. 46.
[27]Seperti dikutip oleh Muhammad Abdul Jabbar Beg, dalam The Muslim World League Journal, edisi November-Desember, 1983, hal. 38-42.
[28]Ibid
[29]Ninian Smart, Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief, (New York: Charles Sribner’s sons, n.d), hal. 1-2.
[30]Aslinya: An integrated system of basic beliefs about the nature of yourself, reality, and the meaning of existence, Lihat Thomas F Wall, Thinking Critically About Philosophical Problem, A Modern Introduction, Wadsworth, Thomson Learning, Australia, 2001, hal. 532.
[31]Aslinya: The foundation of all human conduct, including scientific and technological activities. Every human activity is ultimately traceable to its worldview, and as such it is reducible to that worldview. Lihat Alparslan Acikgence, “The Framework for A history of Islamic Philosophy”, Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), 1996, jilid1. Nomor 1&2, hal. 6.
[32]Prof. Alparslan menyimpulkan bahwa suatu pandangan hidup umumnya memiliki 5 struktur konsep atau pandangan yang terdiri dari 1) struktur konsep tentang ilmu, 2) tentang alam semesta, 3) tentang manusia, 4) tentang kehidupan, dan 5) tentang nilai moralitas. Alparslan Acikgence, Scientific Thought And Its Burdens, An Essay in the History and Philosophy of Science, (Fatih University Publications, 2000), hal. 78.
[33]Al-MawdËdÊ, The Process of Islamic Revolution, (Lahore, 1967), hal. 14, 41.
[34]M.Sayyid Qutb, MuqawwamÉt al-TaÎawwur al-IslÉmÊ, DÉr al-ShurËq, tt. Hal. 41
[35]S.M.N, al-Attas dalam Prolegomena to The Metaphysics of Islam An Exposition of the Fundamental Element of the Worldview of Islam, Kuala Lumpur, ISTAC, 1995, hal. 2
[36]Ibn KhaldËn, ‘Abd al-RaÍmÉn Ibn MuÍammad, The Muqaddimah: an Introduction to history, Penerjemah Franz Rosenthal, 3 jilid, editor N.J. Dawood. (London, Routledge & Kegan Paul, 1978), hal. 54-57.
[37]The Rise and Expansion of Islam, hal. 271.
[38]Ibid, hal. 273.
[39]Ibid, hal. 274.
[40]Ibid, hal. 276.
[41]Encyclopedia Britannica, Eleventh Edition, 1911, Medicine, Vol. 18, Encyclopedia Britannica Company, New York, p. 45
[42]David Deming, Science and Technology in World History, Volume 2: Early Cristianity, the Rise of Islam and the Middle Ages, (North Carolina: McFarland & Company, Inc., 2010), hal. 93.
[43]The Rise and Expansion of Islam, hal. 277.
[44]Ibid, hal. 278.
[45]Tepatnya di daerah Cairo, Mesir.
[46]Akbar S. Ahmed, Op. Cit., hal. 100.
[47]The Rise and Expansion of Islam, hal. 278.
[48]Akbar S. Ahmed, Op. Cit., hal. 101.
[49]David Deming, Op. Cit., hal. 92.
[50]David Deming, Op. Cit., hal. 94-95.
[51]Ibid, hal. 104.
Recent Posts
- HADITS SHAHIH DAN HADITS HASAN: Sebuah Telaah Epistemologis
- ISLAM SEBAGAI SEBUAH PERADABAN: Eksposisi Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Peradaban Islam
- SKEPTISISME DAN PLURALISME AGAMA
- TAUHID SOSIAL: TRANSFORMASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERPERADABAN
- Kritik atas Studi Orientalis terhadap Sejarah Teks al-Quran
Recent Comments
- Ahmad Saifulloh on PBA 1
- wafi on PBA 1
- HADITS SHAHIH DAN HADITS HASAN: Sebuah Telaah Epistemologis | Fundonesia.com on Kritik atas Studi Orientalis terhadap Sejarah Teks al-Quran
- ISLAM SEBAGAI SEBUAH PERADABAN: Eksposisi Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Peradaban Islam | Fundonesia.com on TAUHID SOSIAL: TRANSFORMASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERPERADABAN
- TAUHID SOSIAL: TRANSFORMASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERPERADABAN | Fundonesia.com on Tinjauan Kritis terhadap Ideologi Kapitalisme (II)
Archives
Tags
agama akhlak al-Qur'an amerika budaya civilization dakwah ekonomi gerhana bulan globalisasi global theology hadits hikmah ideologi islam kapitalisme kebesaran Allah kemuliaan kesejahteraan lunar eclipse manusia moderat muslim negara orientalis orientalisme peradaban peradaban islam perawi philosophy pluralisme pluralisme agama politik sejarah skepticism skeptisisme sosial studi al-Qur'an tafsir tamaddun tauhid tuhan world theology worldview zaman modern







